Masa Depan Kota Metropolitan
( Future Metropolitan City )
Agus Jailani-Mahasiswa Teknik Planologi
Universitas Islam Sultan Agung Semarang
ABSTRAK
Metropolitan city area is a place inhabited by more than one million people in the place,
in the metropolis there are human lives that can be said to be the most complex, because
development is influenced by urban user activity that adapts to the times and the demands of life.
Metropolis as a process that can seen the results and its development is more prominent than
the outer regions of the city, as well as the tendency to place more emphasis on economic terms,
therefore, the metropolis is considered as a result of human engineering to meet the economic life
of its users and is why the people rural migration in to the city to meet all their needs.The city as
a resolution (solving) the problems of planning with regard to professional divisions, and the city
as a coherent experience, with regard to the formal split. To be able to understand the intricacies
of planning regions and cities, is expected to can both assist in the planning and design of regions
and cities in the future to provide the convenience of using the city, overcoming the physical city
, address the globalization, commercialization, privatization, democratization, decentralization, and
overcome the damage environment.
Keywords : City,
Metropolitan City, Future
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kota
metropolitan mempunyai dua sisi yang saling bertolak belakang, di satu pihak
merupakan surga bagi mereka yang memiliki uang dan punya kesempatan, dipihak
lain merupakan neraka yang nyata dan langsung dirasakan kepahitan dan
kegetirannya bagi mereka yang miskin dan tidak punya kesempatan. Kota menurut
sejarah pertumbuhannya merupakan sumber dan tempat kemudahan hidup dan
modernisasi, serta pusat kemegahan, tetapi dalam waktu dan ruang yang sama,
pusat ke bengisan dan kepahitan hidup. Demikianlah dinamika dan realita kota. Penggambaran
akan masalah kota metropolitan dan hari depannya merupakan sebagian
persinggahan dibanyak kota di Barat, di Timur, dan di kota besar Indonesia. Dengan
mengungkapkan masalah perkotaan dan proyeksi hari kedepannya, dimaksudkan sekedar
sumbangsih sebagai warga kota, dengan harapan akan menggugah partisipasi
masyarakat akan tanggung jawab pembangunan dan pemeliharaan lingkungan kota;
meningkatkan kembali akan kesadaran tanggung jawab sosial pemerintah, pengusaha
dan masyarakat dan akan hari depan keturunannya. Semoga kota metropolitan yang
ada di Indonesia tidak mengulangi masalah kota metropolitan (Slum,
proses kemiskinan sekelompok warga kota, pola konsumtif yang tidak
terkendalikan) yang telah dialami beberapa kota di dunia, terutama di negara
yang sedang berkembang.
Tinjauan Pustaka
Kota (City)
Dalam
Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 2 Tahun 1987 tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Kota, kota adalah permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai
batasan wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundangan serta
permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan kekotaan.
Sedangkan perkotaan adalah satuan kumpulan pusat-pusat permukiman yang berperan
di dalam suatu wilayah pengembangan dan atau Wilayah Nasional sebagai simpul
jasa.
Dalam Inmendagri nomor 34 tahun 1986 tentang Pelaksanaan Permendagri nomor 7 tahun 1986 tentang Batas-batas Wilayah Kota Di Seluruh Indonesia, ciri-ciri wilayah kota dapat dilihat dari aspek fisik dan aspek sosial ekonomi. Dilihat dari aspek fisik, maka wilayah kota mempunyai ciri-ciri sebagai berikut ;
Dalam Inmendagri nomor 34 tahun 1986 tentang Pelaksanaan Permendagri nomor 7 tahun 1986 tentang Batas-batas Wilayah Kota Di Seluruh Indonesia, ciri-ciri wilayah kota dapat dilihat dari aspek fisik dan aspek sosial ekonomi. Dilihat dari aspek fisik, maka wilayah kota mempunyai ciri-ciri sebagai berikut ;
·
Tempat
permukiman penduduk yang merupakan satu kesatuan dengan luas, jumlah bangunan,
kepadatan bangunan yang relatif lebih tinggi daripada wilayah sekitarnya;
·
Proporsi
bangunan permanen lebih besar di tempat itu daripada di wilayah-wilayah
sekitarnya;
·
Mempunyai lebih
banyak bangunan fasilitas sosial ekonomi (sekolah, poliklinik, pasar, toko,
kantor pemerintah dan lain-lain) daripada wilayah sekitarnya.
Kota Metropolitan (Metropolitan City)
Secara
umum, metropolitan didefinisikan sebagai suatu pusat permukiman besar yang
terdiri dari satu kota besar dan beberapa kawasan yang berada di sekitarnya
dengan satu atau lebih kota besar melayani sebagai titik hubung dengan
kota-kota di sekitarnya tersebut. Suatu kawasan metropolitan merupakan
aglomerasi dari beberapa kawasan permukiman, tidak harus kawasan permukiman
yang bersifat kota, namun secara keseluruhan membentuk suatu kesatuan dalam
aktivitas bersifat kota dan bermuara pada pusat (kota besar yang merupakan
inti) yang dapat dilihat dari aliran tenaga kerja dan aktivitas komersial.
Definisi
kawasan metorpolitan yang relevan dalam konteks negara Indonesia, yaitu
berdasarkan Undang-Undang Tahun 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Undang-Undang tersebut mendefinisikan kawasan metropolitan sebagai kawasan
perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau
kawasan perkotaan inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling
memiliki keterkaitan fungsional yang dihubungkan dengan sistem jaringan
prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan
sekurang-kurangnya 1.000.000 (satu juta) jiwa.
Kota
metropolitan dapat dibedakan antara kota metropolitan internasional, nasional
dan regional, dengan definisi sebagai berikut :
Kota Metropolitan Internasional :
Kota Metropolitan Internasional :
1.
Memiliki
populasi yang secara kualitataif aktivitasnya berada di tingkat internasional
dan berada di jaringan perdagangan raksasa
2.
Memiliki
pelayanan tingkat internasional di bidang teknologi, konsultasi dan riset
3.
Memiliki
infrastruktur untuk penyelenggaraan aktivitas internasional seperti : kongres,
festival, dll
4.
Memiliki
komunitas tenaga kerja asing yang merepresentasikan perusahaan dan institusi
multinasional yang jumlahnya cukup untuk mempengaruhi kehidupan lokal
5.
Memiliki citra
internasional terutama dalam bidang pariwisata dan budaya
Kota
Metropolitan Nasional :
1.
Dalam hal ini hampir
seluruh kota metropolitan nasional memiliki kriteria seperti kota metropolitan
internasional
2.
Di
negara-negara berkembang, kota-kota metropolitan secara umum adalah kota-kota
yang sangat besar dari segi demografik (hingga mencapai jutaan jiwa)
3.
Kota-kota
tersebut tidak selalu memiliki karakter kota metropolitan, namun sebagian telah
masuk ke dalam proses internasionalisasi dan globalisasi
Kota
Metropolitan Regional
1.
Kota yang
memilki peran besar dalam perekonomian negara
2.
Ibukota
regional
3.
Pusat pertumbuhan
wilayah dan tempat berpusatnya sebagian besar pelayanan perkotaan
4.
Menjadi gerbang
wilayah untuk berhubungan dengan wilayah lain di tingkat nasional dan
internasional
Sekarang
ini kita mengenal ada delapan kawasan metropolitan di Indonesia (Direktorat Jenderal
Penataan Ruang, 2006) yaitu:
·
Metropolitan
Jabodetabekjur, yang meliputi Jakarta – Bogor – Depok – Tangerang - Bekasi –
Cianjur
·
Metropolitan
Bandung, yang meliputi Kota Bandung - Kabupaten Bandung - Kota Cimahi -
Kabupaten Sumedang
·
Metropolitan
Semarang, yang meliputi Kabupaten Kendal – Kabupaten Semarang (Ungaran) – Kota
Semarang – Kabupaten Purwodadi (atau disebut juga dengan metropolitan
“Kedungsepur”)
·
Metropolitan
Surabaya, yang meliputi Kabupaten Gresik – Bangkalan – Kabupaten Mojokerto –
Kota Surabaya – Kabupaten Sidoarjo – Kota Lamongan (atau disebut juga dengan
metropolitan “Gerbangkertosusila”)
·
Metropolitan
Medan, yang meliputi Kota Medan – Kabupaten Binjai – Kabupaten Deliserdang
(atau disebut juga dengan metropolitan “Mebidang”)
·
Metropolitan
Denpasar, yang meliputi Denpasar – Badung - Gianyar – Tabanan (atau disebut
juga dengan metropolitan “Sarbagita”)
·
Metropolitan
Makassar, yang meliputi Kota Makassar – Kabupaten Maros – Kabupaten Gowa –
Kabupaten Takalar (atau disebut juga dengan metropolitan “Mamminasata”)
·
Metropolitan
Palembang
·
Metropolitan
BBM, yang meliputi Kota Banjarmasin – Kota Banjar Baru – Kota Martapura
Selain
kedelapan kawasan metropolitan tersebut di atas, Kota Yogyakarta dan daerah
sekitarnya yang meliputi Kabupaten Bantul dan Sleman (walaupun jumlah penduduk
kota intinya belum mencapai satu juta jiwa) secara struktur juga telah
membentuk kawasan metropolitan, karena memiliki kota satelit dan kota inti.
Ciri Kawasan Metropolitan
Berdasarkan definisi, Ciri-ciri Metropolitan
ditunjukkan oleh beberapa aspek, antara lain besaran penduduk, kegiatan ekonomi, mobilitas aktivitas penduduk, dan struktur kawasan.
Besaran jumlah penduduk menjadi aspek pertimbangan utama dalam
menentukan definisi suatu metropolitan. Namun, sejumlah pakar perkotaan
menetapkan batas yang berbeda-beda untuk penetapan jumlah minimal penduduk
kawasan metropolitan.
Pada kawasan metropolitan terjadi aglomerasi kawasan permukiman dan
lapangan pekerjaan. Dengan kata lain, kawasan metropolitan merupakan kawasan
perkotaan dengan spesialisasi fungi aktivitas sosial ekonomi. Spesialisasi
ekonomi tersebut merupakan sektor industri dan jasa. Proses spesialisasi di
kawasan metropolitan terjadi karena selalu berkembangmya teknologi produksi,
distribusi, dan komunikasi.
Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi perkotaan merupakan faktor
pendorong terjadinya metropolitan dan akan terus berpengaruh terhadap prospek
metropolitan di masa depan. Kenyataannya, metropolitan dimana saja mengemban
fungsi ekonomi nasional yang sangat berarti sumbangannya bagi seluruh negara.
Metropolitan dituntut mampu berperan dan berfungsi sesuai dengan bagiannya
dalam pembangunan ekonomi nasional. Di sisi lain, peran ekonomi nasional
metropolitan harus diimbangi dengan tingkat ekonomi yang sebanding dan mampu
menberikan kehidupan yang layak bagi warga masayrakat metropolitan itu sendiri.
Metropolitan harus mampu menciptakan lapangan kerja dan tingkat pendapatan yang
memadai bagi masyarakatnya untuk dapat bertahan dan bahkan menikmati kehidupan
di dalam lingkungan metropolitan. Tingkatan pendapatan di metropolitan umumnya
jauh melebihi kota dan daerah lain seta pedesaan, dan menjadi daya tarik
metropolitan bagi arus penduduk yang mencari kerja dan kehidupan yang layak.
Tentunya harus diperhitungkan bahwa tingkat pengeluaran masyarakat metropolitan
pada umumnya juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kota dan daerah lainnya
Salah satu ciri kawasan metropolitan ditunjukkan dalam bentuk
kemudahan mobilitas yang menurut Angotti (1993) terlihat dalam 3 bentuk
(Winarso et al, 2006), yaitu:
1.
Mobilitas
pekerjaan (Employment mobility), dicirikan dengan mudahnya orang berpindah
tempat kerja tanpa harus berpindah tempat tinggal karena banyaknya jenis dan
variasi pekerjaan yang tersedia.
2.
Mobilitas
Perumahan (Residential Mobility), terjadi sejalan dengan mobilitas tempat
kerja.
3.
Mobilitas
Perjalanan (Trip Mobility), terjadi karena mobilitas tempat kerja dan tempat
tinggal
Struktur kawasan metropolitan dapat
terdiri dari dua jenis, yaitu kawasan metropolitan yang hanya memiliki satu
pusat (monocentric) dan kawasan metropolitan dengan lebih dari satu pusat
(polycentric). Kota-kota yang saling berhubungan dalam satu kawasan
metropolitan terutama memiliki ikatan secara fungsi kegiatan ekonomi dan sosial
dan tidak harus selalu berhubungan dalam segi fisik melalui perwujudan kawasan
terbangun (built-up area). Selain itu, struktur kawasan metropolitan juga
ditunjukkan oleh adanya sistem infrastruktur yang saling
menghubungkan antar area-area di dalam kawasannya sehingga secara keseluruhan
menjadi suatu kawasan permukiman dengan segala aktivitas pendukungnya dalam
skala yang besar dan luas.
Masa Depan (Future)
Masa depan adalah sesuatu yang
diharapkan pada hari ini, agar menjadi lebih baik dari waktu yang telah
berlalu. Masa depan itu selalu penuh harapan, selalu penuh impian, dan semua
orang mengejarnya dengan melakukan apapun yang kita yakini mampu dikerjakan
pada hari ini.
Manfaat
Pembahasan
pada judul Masa Depan Kota Metropolitan memiliki manfaat dapat mengenal lebih
jauh mengenai apa itu kota metropolitan, dapat dengan bijak menjadikan kota
metropolitan lebih nyaman untuk masyarakat yang menempatinya.
Tujuan
Artikel
yang membahas mengenai Masa Depan Kota Metropolitan ini diharapkan dapat
mengubah cara pandang dan pola pikir terhadap pembangunan kota metropolitan di
masa yang akan datang agar lebih nyaman dan layak untuk disinggahi oleh
masyarakat yang lebih dari satu juta jiwa, serta layak dikatakan sebagai kota
besar, kota yang penuh aktivitasnya.
METODE PENELITIAN
Sesuai
dengan prosedur yang tersedia, berkaitan dengan hal yang berhubungan mengenai
pengumpulan data. Metode analisa data dalam pengumpulan data adalah sebagai
berikut :
1.
Pengumpulan
data, data yang diperoleh baik dari buku tulis atau media sosial yang ada
seperti Blogger, Wikipedia yang berhubungan dengan Masa Depan Kota
Metropolitan.
2.
Kesimpulan
dibuat berdasarkan data yang diperoleh dari buku maupun media sosial mengenai
kota metropolitan yang sudah dicari.
ANALISIS
Sebuah Kota untuk Masyarakat
Elemen
struktural lainnya dari model kota baru adalah banyaknya tempat umum untuk
berjalan kaki yang bermutu tinggi. Setidaknya tempat umum untuk berjalan kaki
harus sama banyak dengan ruang jalan. Jalur sepeda yang terlindung secara
fisik, jalan khusus untuk pejalan kaki yang luas, serta jalur hijau harus
membentang ke seluruh penjuru kota. Bidang tanah yang luas di sekeliling kota
harus menjadi taman, tempat pejalan kaki lintas alam, dan untuk berhubungan
dengan alam, seluruh tepi laut harus memiliki akses untuk umum dan
infrastruktur dasar utuk akses tersebut.
Taman
dan tempat pejalan kaki lainnya merupakan hal yang penting untuk menciptakan
kehidupan kota yang bahagia. Pada awalnya tampaknya di kota-kota yang sedang
berkembang dengan begitu banyak kebutuhan ekonomi perkotaan yang tidak
dipenuhi, dan tidak meningkatkan penghasilan pribadi kaum miskin malah
menjadikan ruang perkotaan untuk pejalan kaki yang bermutu tinggi, taman,
plaza, dan trotoar, dimana banyak warga yang mengalami kekurangan dalam hal
fasilitas dan konsumsi.
Perbedaan
dengan golongan berpenghasilan tinggi baru terasa pada saat waktu luang/santai.
Sementara masyarakat berpenghasilan tinggi semakin berubah menjadi komunitas
yang memiliki pintu gerbang besar dan tanah perumahan dengan akses ke jalan
bebas hambatan dekat pinggiran kota-kota besar yang sedang berkembang,
memounyai mobil. Bersantai di klub, makan direstoran dan berlibur di luar
negeri, bagi masyarakan miskit ruang umum merupakan satu-satunya alternatif
untuk bersenang-senang, selain telivisi dan berjalan-jalan ke pusat
perbelanjaan.
Berbicara
tentang kota yang kita inginkan adalah berbicara tentang cara yang kita
inginkan untuk hidup. Kita ingin menciptakan sebuah kota untuk kaum miskin,
ana-anak, dan lanjut usia dan oleh karena itu untuk setiap manisua lainnya atau
sebuah kota untuk mobil. Hal tersebut bukanlah tentang rekayasa, melainya cara
hidup. Dasar pikiran dari kota baru adalah bahwa kita ingin masyarakat dapat
bersikap sedemokratis mungkin. Untuk itu, distribusi penghasilan. Persamaan hak
yang benar-benar menjadi masalah adalah yang berhubungan dengan seorang anak
yaitu untuk memperoleh akses ke gizi, rekreasi, pendidikan, fasilitas olahraga,
jalur hijau, dan lingkungan hidup yang sebebas mungkin dari kendaraan bermotor.
Kota tersebut harus memiliki budaya yang bersahabat; tempat publik dengan
warga; tingkat kebisingan dan polusi udara yang rendah; dan waktu perjalanan
yang singkat.
Untuk
mengatasi masalah-masalah yang ada di kota metropolitan ada dua solusi untuk
menjadikan kota metropolitan tersebut nyaman untuk masyarakat yang menempati
tempat tersebut, yaitu
Vertical City
Kota-kota metropolitan dimasa depan sering disebut dengan Vertical
City. Mengapa? Karena semua bangunan yang ada di kota-kota metropolitan di masa
depan akan berupa bangunan tinggi pencakar langit. Vertical
city dimaksudkan untuk mengubah wajah di kota metropolitan yang sudah
semakin sempit dengan keberadaan manusia yang tinggal di dalamnya. Apartemen
,Mix Used Building hadir sebagai solusi jawaban bagi kita di masa depan
yang rindu akan keberadaan ruang terbuka hijau. Jika semua fungsi rumah
tinggal, hotel, kantor, ritel, mall bisa dijadikan di satu bangunan maka polusi
udara akan berkurang, taman-taman kota semakin banyak, ruang terbuka hijau juga
semakin banyak serta ruang publik sebagai area bersosialisasi juga akan semakin
banyak.
Keberadaan
vertical city ini juga memberikan keuntungan untuk tiga aspek kehidupan. Yaitu
:
1.
Lingkungan
Menekan pemanasan global, melestarikan keberadaan tanah, membuat
banyak ruang terbuka hijau, menghadirkan makanan dari lahan pertanian yang
sehat.
2.
Umum
Memaksimalkan kepadatan penduduk dan efisiensi di setiap bangunan
tinggi. Memaksimalkan jarak antar bangunan untuk bisa ditempuh dengan berjalan
kaki ± 15 menit.
3.
Sosial
Ekonomi-Politik
Keberadaan Mix Used Building diharapkan mampu mengurangi
kemacetan di jalan raya serta meminimaliskan polusi udara di perkotaan. Karena
dengan adanya Mix Used Building kebutuhan masyarakat akan hunian,
pekerjaan, pendidikan, hiburan, pelayanan kesehatan serta pelayanan jasa
lainnya bisa didapatkan di dalam satu gedung bangunan, tanpa harus menggunakan
kendaraan pribadi atau umum untuk menjangkaunya.
Memprioritaskan Kendaraan Umum
Solusi
yang berkelanjutan ini adalah dengan meminta masyarakat menggunakan angkutan
umum daripada menggunakan mobil pribadi. Sebagian mengusulkan biaya penggunaan
yang tinggi dalam rangka membataso penggunaan yang tinggi dalam rangka
membatasi penggunaan mobil pribadi: biaya registrasi kendaraan, pajak
kendaraan, pembatasan BBM(Bahan Bakar Minyak) atau berbagai bea jalan sesuai
dengan jenis jalan dan waktu penggunaannya. Namun demikian penyelesaian seperti
ini memiliki kelemahan antara lain biaya dibebankan tersebut tidak pernah
menutupi secara memadai biaya kebisingan dan polusi udara, kontruksi dan
pemeliharaan jalan.
Kebijaksanaan
tentang transportasi perkotaan cenderung mengarah ke aspek politik daripada
aspek teknis, karena aspek teknis dinilai tetap sederhana. Kebijaksanaan
tersebut dapat terkait dengan penciptaan model transportasi yang sama dengan
kota-kota negara lain, penciptaan sistem angkutan yang berbiaya rendah dan
berfrekuensi tinggi, dan penciptaan ruang umum untuk pejalan kaki. Daya beli masyarakat
terhadap kendaraan semakin tinggi menimbulkan kemacetan lalu lintas yang akan
berakibat pada tekanan yang luar biasa untuk melakukan investasi dalam
infrastruktur jalan yang lebih banyak dan lebih besar, dimana pada gilirannya
akan merangsang pembangunan ke pinggiran kota.
Paris
adalah contoh terbaik tumbuhnya penggunaan mobil dan beberapa jenis
transportasi lain seperti kereta, didukun dengan pusan kota yang indah dan
angkutan umum yang bermutu tinggi.
Perlu
dipahami pula bahwa keistimewaan-keistimewaan apa saja yang menarik orang
kepinggiran kota dibuat supaya keistimewaan-keistimewaan tersebut juga dapat
disediakan di pusat-pusat kawasan.
Model
kota baru yang ditetapkan sekarang ini memberikan banyakk jalan khusus pejalan
kaki dan jalur hijau yang memberikan kekuatan yang menggerakkan sub-urbanisasi
ini. Sifat dasar transportasi berbasis mobil yang tidak berkelanjutan
diilustrasikan melalui fakta bahwa masalah makin memburuk ketika masyarakat
tumbuh semakin kaya. Kecuali kalau penggunaan mobil dibatasi dengan sangat
ketat, seperti di Hongkong yang menyediakan ruang parkir di Pusar Kawasan
Bisnis dengan jumlah yang sedikit, masyarakat akan lebih dirugikan seiring
dengan kemajuan ekonomi.
Membangun Taman Kota
Kota
Taman dapat berupa hutan kota (arboretum), taman kota, lapangan olahraga, jalur
hijau, plaza disepanjang jalan raya, bantaran rel kereta api, bantaran sungai,
pantai saling menyatu dengan didominasi pohon-pohon besar berusia puluhan
hingga ratusan tahun berdiameter lebih dari 50 sentimeter dan bukit rumput merupakan
pengisi suatu taman kota. Seperti di Kota Singapura yang mempunyai ciri khas
kota tamah bergaya Inggris (English landscape garde). Kesegaran udara
begitu terasa di badan meski berbagai jenis kendaraan transportasi lalu lalang
membelah lalu lintas. Pepohonan rimbun dan rindang, yang terus-menerus menyerap
dan mengelolah gas-gas buangan kendaraan bermotor, yang merupakan 80 persen
pencemar udara kota, menjadi oksigen segar yang siap dihirup warga setiap saat.
Sehingga warga kota pun terhindar dari resiko infeksi saluran pernapasan,
stres, mual, muntah, pusing, kematian janin, keterbelakangan mental anak-anak,
dan kanker kulit akibat sinar ultraviolet. Begitu pula dengan Kota
Metropolitan, kios-kios yang menempati tepi jalan digusur untuk membuat taman-taman
kota, demi terciptanya kota yang sehat yang berkonsep eco-teknologi, sedangkan
kondisi kota metropollitan yang ada di Indonesia seperti Kota Bogor sebagian
besar masih segar, dengan banyaknya vegetasi penunjang kota. Pembuatan kota
taman tidak bisa dilakukan secara sekejap. Kota Taman di Singapura dibangun
sejak tahun 1965 untuk dapat dinikmati seperti sekarang. Komitmen dan
konsistensi pelaksanaan pembangunan fisik kota terus di imbangi dengan
konservasi RTH(Ruang Terbuka Hijau) secara ketat dan disiplin dalam menata
ruang kota metropolitan. Tidak semua lahan harus dipenuhi oleh bangunan gedung
perkantoran, ruko, hotel, apartemen. Oleh karena itu, peraturang tentang
Koefisien Dasar Bangunan (KDB), di setiap distrik harus diberlakukan dengan
ketat, untuk menjamin terciptanya keselarasan bangunan dengan alam.
PENUTUP
Kesimpulan
Kota Metropolitan merupakan suatu wilayah yang di tempati oleh
manusia yang lebih dari satu juta jiwa. Tempat permukiman penduduk yang
merupakan satu kesatuan dengan luas, jumlah bangunan, kepadatan bangunan yang
relatif lebih tinggi. Proporsi bangunan permanen besar; Mempunyai banyak
bangunan fasilitas sosial ekonomi (sekolah, poliklinik, pasar, toko, kantor
pemerintah dan lain-lain). Dengan demikian, masa depan kota metropolitan
menjadi sangat penting untuk menghindari masalah-masalah yang ada pada kota
metropolitan yang berdampak besar terhadap kesejahteraan dan kemakmuran
masyarakat yang menempatinya.
Saran
Mengurangi
dampak terjadinya kemacetan yang terjadi di kota metropolitan dengan
menggunakan kendaraan umum saat berpergian, akan lebih efisien menghemat biaya,
mengurangi kemacetan yang ada, Sebagai calon penerus Planner kita seharusnya
lebih mengerti dalam membangun gedung yang lebih dalam suatu wilayah agar mengurangi
dampak buruk yang ada pada suatu wilayah tersebut. Agar masa depan wilayah yang
dibangun nyaman ditempati.
DAFTAR PUSTAKA
MulyandariHestin.2011.Pengantar
Arsitektur Kota:Yogyakarta.C.V. ANDI OFFSET
https://florafocus.wordpress.com/

