Senin, 23 Januari 2017

Masa Depan Kota Metropolitan
( Future Metropolitan City )
Agus Jailani-Mahasiswa Teknik Planologi
Universitas Islam Sultan Agung Semarang

ABSTRAK

Metropolitan city area is a place inhabited by more than one million people in the place,
in the metropolis there are human lives that can be said to be the most complex, because
 development is influenced by urban user activity that adapts to the times and the demands of life.
 Metropolis as a process that can seen the results and its development is more prominent than
 the outer regions of the city, as well as the tendency to place more emphasis on economic terms, 
therefore, the metropolis is considered as a result of human engineering to meet the economic life 
of its users and is why the people rural migration in to the city to meet all their needs.The city as
 a resolution (solving) the problems of planning with regard to professional divisions, and the city
 as a coherent experience, with regard to the formal split. To be able to understand the intricacies
 of planning regions and cities, is expected to can both assist in the planning and design of regions
 and cities in the future to provide the convenience of using the city, overcoming the physical city
, address the globalization, commercialization, privatization, democratization, decentralization, and
 overcome the damage environment.

Keywords : City, Metropolitan City, Future



PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kota metropolitan mempunyai dua sisi yang saling bertolak belakang, di satu pihak merupakan surga bagi mereka yang memiliki uang dan punya kesempatan, dipihak lain merupakan neraka yang nyata dan langsung dirasakan kepahitan dan kegetirannya bagi mereka yang miskin dan tidak punya kesempatan. Kota menurut sejarah pertumbuhannya merupakan sumber dan tempat kemudahan hidup dan modernisasi, serta pusat kemegahan, tetapi dalam waktu dan ruang yang sama, pusat ke bengisan dan kepahitan hidup. Demikianlah dinamika dan realita kota. Penggambaran akan masalah kota metropolitan dan hari depannya merupakan sebagian persinggahan dibanyak kota di Barat, di Timur, dan di kota besar Indonesia. Dengan mengungkapkan masalah perkotaan dan proyeksi hari kedepannya, dimaksudkan sekedar sumbangsih sebagai warga kota, dengan harapan akan menggugah partisipasi masyarakat akan tanggung jawab pembangunan dan pemeliharaan lingkungan kota; meningkatkan kembali akan kesadaran tanggung jawab sosial pemerintah, pengusaha dan masyarakat dan akan hari depan keturunannya. Semoga kota metropolitan yang ada di Indonesia tidak mengulangi masalah kota metropolitan (Slum, proses kemiskinan sekelompok warga kota, pola konsumtif yang tidak terkendalikan) yang telah dialami beberapa kota di dunia, terutama di negara yang sedang berkembang.

Tinjauan Pustaka

Kota (City)

Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 2 Tahun 1987 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota, kota adalah permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundangan serta permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan kekotaan. Sedangkan perkotaan adalah satuan kumpulan pusat-pusat permukiman yang berperan di dalam suatu wilayah pengembangan dan atau Wilayah Nasional sebagai simpul jasa.
Dalam Inmendagri nomor 34 tahun 1986 tentang Pelaksanaan Permendagri nomor 7 tahun 1986 tentang Batas-batas Wilayah Kota Di Seluruh Indonesia, ciri-ciri wilayah kota dapat dilihat dari aspek fisik dan aspek sosial ekonomi. Dilihat dari aspek fisik, maka wilayah kota mempunyai ciri-ciri sebagai berikut ;
·         Tempat permukiman penduduk yang merupakan satu kesatuan dengan luas, jumlah bangunan, kepadatan bangunan yang relatif lebih tinggi daripada wilayah sekitarnya; 
·         Proporsi bangunan permanen lebih besar di tempat itu daripada di wilayah-wilayah sekitarnya; 
·         Mempunyai lebih banyak bangunan fasilitas sosial ekonomi (sekolah, poliklinik, pasar, toko, kantor pemerintah dan lain-lain) daripada wilayah sekitarnya.


Kota Metropolitan (Metropolitan City)

Secara umum, metropolitan didefinisikan sebagai suatu pusat permukiman besar yang terdiri dari satu kota besar dan beberapa kawasan yang berada di sekitarnya dengan satu atau lebih kota besar melayani sebagai titik hubung dengan kota-kota di sekitarnya tersebut. Suatu kawasan metropolitan merupakan aglomerasi dari beberapa kawasan permukiman, tidak harus kawasan permukiman yang bersifat kota, namun secara keseluruhan membentuk suatu kesatuan dalam aktivitas bersifat kota dan bermuara pada pusat (kota besar yang merupakan inti) yang dapat dilihat dari aliran tenaga kerja dan aktivitas komersial.
Definisi kawasan metorpolitan yang relevan dalam konteks negara Indonesia, yaitu berdasarkan Undang-Undang Tahun 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang tersebut mendefinisikan kawasan metropolitan sebagai kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau kawasan perkotaan inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional yang dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan sekurang-kurangnya 1.000.000 (satu juta) jiwa.
Kota metropolitan dapat dibedakan antara kota metropolitan internasional, nasional dan regional, dengan definisi sebagai berikut :
Kota Metropolitan Internasional :
1.      Memiliki populasi yang secara kualitataif aktivitasnya berada di tingkat internasional dan berada di jaringan perdagangan raksasa
2.      Memiliki pelayanan tingkat internasional di bidang teknologi, konsultasi dan riset
3.      Memiliki infrastruktur untuk penyelenggaraan aktivitas internasional seperti : kongres, festival, dll
4.      Memiliki komunitas tenaga kerja asing yang merepresentasikan perusahaan dan institusi multinasional yang jumlahnya cukup untuk mempengaruhi kehidupan lokal
5.      Memiliki citra internasional terutama dalam bidang pariwisata dan budaya


Kota Metropolitan Nasional :
1.        Dalam hal ini hampir seluruh kota metropolitan nasional memiliki kriteria seperti kota metropolitan internasional
2.        Di negara-negara berkembang, kota-kota metropolitan secara umum adalah kota-kota yang sangat besar dari segi demografik (hingga mencapai jutaan jiwa)
3.        Kota-kota tersebut tidak selalu memiliki karakter kota metropolitan, namun sebagian telah masuk ke dalam proses internasionalisasi dan globalisasi
Kota Metropolitan Regional
1.        Kota yang memilki peran besar dalam perekonomian negara
2.        Ibukota regional
3.        Pusat pertumbuhan wilayah dan tempat berpusatnya sebagian besar pelayanan perkotaan
4.        Menjadi gerbang wilayah untuk berhubungan dengan wilayah lain di tingkat nasional dan internasional

Sekarang ini kita mengenal ada delapan kawasan metropolitan di Indonesia (Direktorat Jenderal Penataan Ruang, 2006) yaitu:
·         Metropolitan Jabodetabekjur, yang meliputi Jakarta – Bogor – Depok – Tangerang - Bekasi – Cianjur
·         Metropolitan Bandung, yang meliputi Kota Bandung - Kabupaten Bandung - Kota Cimahi - Kabupaten Sumedang
·         Metropolitan Semarang, yang meliputi Kabupaten Kendal – Kabupaten Semarang (Ungaran) – Kota Semarang – Kabupaten Purwodadi (atau disebut juga dengan metropolitan “Kedungsepur”)
·         Metropolitan Surabaya, yang meliputi Kabupaten Gresik – Bangkalan – Kabupaten Mojokerto – Kota Surabaya – Kabupaten Sidoarjo – Kota Lamongan (atau disebut juga dengan metropolitan “Gerbangkertosusila”)
·         Metropolitan Medan, yang meliputi Kota Medan – Kabupaten Binjai – Kabupaten Deliserdang (atau disebut juga dengan metropolitan “Mebidang”)
·         Metropolitan Denpasar, yang meliputi Denpasar – Badung - Gianyar – Tabanan (atau disebut juga dengan metropolitan “Sarbagita”)
·         Metropolitan Makassar, yang meliputi Kota Makassar – Kabupaten Maros – Kabupaten Gowa – Kabupaten Takalar (atau disebut juga dengan metropolitan “Mamminasata”)
·         Metropolitan Palembang
·         Metropolitan BBM, yang meliputi Kota Banjarmasin – Kota Banjar Baru – Kota Martapura
Selain kedelapan kawasan metropolitan tersebut di atas, Kota Yogyakarta dan daerah sekitarnya yang meliputi Kabupaten Bantul dan Sleman (walaupun jumlah penduduk kota intinya belum mencapai satu juta jiwa) secara struktur juga telah membentuk kawasan metropolitan, karena memiliki kota satelit dan kota inti.

Ciri Kawasan Metropolitan

Berdasarkan definisi, Ciri-ciri Metropolitan ditunjukkan oleh beberapa aspek, antara lain besaran pendudukkegiatan ekonomimobilitas aktivitas penduduk, dan struktur kawasan.
Besaran jumlah penduduk menjadi aspek pertimbangan utama dalam menentukan definisi suatu metropolitan. Namun, sejumlah pakar perkotaan menetapkan batas yang berbeda-beda untuk penetapan jumlah minimal penduduk kawasan metropolitan.
Pada kawasan metropolitan terjadi aglomerasi kawasan permukiman dan lapangan pekerjaan. Dengan kata lain, kawasan metropolitan merupakan kawasan perkotaan dengan spesialisasi fungi aktivitas sosial ekonomi. Spesialisasi ekonomi tersebut merupakan sektor industri dan jasa. Proses spesialisasi di kawasan metropolitan terjadi karena selalu berkembangmya teknologi produksi, distribusi, dan komunikasi.
Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi perkotaan merupakan faktor pendorong terjadinya metropolitan dan akan terus berpengaruh terhadap prospek metropolitan di masa depan. Kenyataannya, metropolitan dimana saja mengemban fungsi ekonomi nasional yang sangat berarti sumbangannya bagi seluruh negara. Metropolitan dituntut mampu berperan dan berfungsi sesuai dengan bagiannya dalam pembangunan ekonomi nasional. Di sisi lain, peran ekonomi nasional metropolitan harus diimbangi dengan tingkat ekonomi yang sebanding dan mampu menberikan kehidupan yang layak bagi warga masayrakat metropolitan itu sendiri. Metropolitan harus mampu menciptakan lapangan kerja dan tingkat pendapatan yang memadai bagi masyarakatnya untuk dapat bertahan dan bahkan menikmati kehidupan di dalam lingkungan metropolitan. Tingkatan pendapatan di metropolitan umumnya jauh melebihi kota dan daerah lain seta pedesaan, dan menjadi daya tarik metropolitan bagi arus penduduk yang mencari kerja dan kehidupan yang layak. Tentunya harus diperhitungkan bahwa tingkat pengeluaran masyarakat metropolitan pada umumnya juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kota dan daerah lainnya
Salah satu ciri kawasan metropolitan ditunjukkan dalam bentuk kemudahan mobilitas yang menurut Angotti (1993) terlihat dalam 3 bentuk (Winarso et al, 2006), yaitu:
1.    Mobilitas pekerjaan (Employment mobility), dicirikan dengan mudahnya orang berpindah tempat kerja tanpa harus berpindah tempat tinggal karena banyaknya jenis dan variasi pekerjaan yang tersedia.
2.    Mobilitas Perumahan (Residential Mobility), terjadi sejalan dengan mobilitas tempat kerja.
3.    Mobilitas Perjalanan (Trip Mobility), terjadi karena mobilitas tempat kerja dan tempat tinggal
Struktur kawasan metropolitan dapat terdiri dari dua jenis, yaitu kawasan metropolitan yang hanya memiliki satu pusat (monocentric) dan kawasan metropolitan dengan lebih dari satu pusat (polycentric). Kota-kota yang saling berhubungan dalam satu kawasan metropolitan terutama memiliki ikatan secara fungsi kegiatan ekonomi dan sosial dan tidak harus selalu berhubungan dalam segi fisik melalui perwujudan kawasan terbangun (built-up area). Selain itu, struktur kawasan metropolitan juga ditunjukkan oleh adanya sistem infrastruktur yang saling menghubungkan antar area-area di dalam kawasannya sehingga secara keseluruhan menjadi suatu kawasan permukiman dengan segala aktivitas pendukungnya dalam skala yang besar dan luas.

Masa Depan (Future)

Masa depan adalah sesuatu yang diharapkan pada hari ini, agar menjadi lebih baik dari waktu yang telah berlalu. Masa depan itu selalu penuh harapan, selalu penuh impian, dan semua orang mengejarnya dengan melakukan apapun yang kita yakini mampu dikerjakan pada hari ini.

Manfaat

Pembahasan pada judul Masa Depan Kota Metropolitan memiliki manfaat dapat mengenal lebih jauh mengenai apa itu kota metropolitan, dapat dengan bijak menjadikan kota metropolitan lebih nyaman untuk masyarakat yang menempatinya.

Tujuan

Artikel yang membahas mengenai Masa Depan Kota Metropolitan ini diharapkan dapat mengubah cara pandang dan pola pikir terhadap pembangunan kota metropolitan di masa yang akan datang agar lebih nyaman dan layak untuk disinggahi oleh masyarakat yang lebih dari satu juta jiwa, serta layak dikatakan sebagai kota besar, kota yang penuh aktivitasnya.

METODE PENELITIAN

Sesuai dengan prosedur yang tersedia, berkaitan dengan hal yang berhubungan mengenai pengumpulan data. Metode analisa data dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
1.      Pengumpulan data, data yang diperoleh baik dari buku tulis atau media sosial yang ada seperti Blogger, Wikipedia yang berhubungan dengan Masa Depan Kota Metropolitan.
2.      Kesimpulan dibuat berdasarkan data yang diperoleh dari buku maupun media sosial mengenai kota metropolitan yang sudah dicari.

ANALISIS

Sebuah Kota untuk Masyarakat

Elemen struktural lainnya dari model kota baru adalah banyaknya tempat umum untuk berjalan kaki yang bermutu tinggi. Setidaknya tempat umum untuk berjalan kaki harus sama banyak dengan ruang jalan. Jalur sepeda yang terlindung secara fisik, jalan khusus untuk pejalan kaki yang luas, serta jalur hijau harus membentang ke seluruh penjuru kota. Bidang tanah yang luas di sekeliling kota harus menjadi taman, tempat pejalan kaki lintas alam, dan untuk berhubungan dengan alam, seluruh tepi laut harus memiliki akses untuk umum dan infrastruktur dasar utuk akses tersebut.
Taman dan tempat pejalan kaki lainnya merupakan hal yang penting untuk menciptakan kehidupan kota yang bahagia. Pada awalnya tampaknya di kota-kota yang sedang berkembang dengan begitu banyak kebutuhan ekonomi perkotaan yang tidak dipenuhi, dan tidak meningkatkan penghasilan pribadi kaum miskin malah menjadikan ruang perkotaan untuk pejalan kaki yang bermutu tinggi, taman, plaza, dan trotoar, dimana banyak warga yang mengalami kekurangan dalam hal fasilitas dan konsumsi.
Perbedaan dengan golongan berpenghasilan tinggi baru terasa pada saat waktu luang/santai. Sementara masyarakat berpenghasilan tinggi semakin berubah menjadi komunitas yang memiliki pintu gerbang besar dan tanah perumahan dengan akses ke jalan bebas hambatan dekat pinggiran kota-kota besar yang sedang berkembang, memounyai mobil. Bersantai di klub, makan direstoran dan berlibur di luar negeri, bagi masyarakan miskit ruang umum merupakan satu-satunya alternatif untuk bersenang-senang, selain telivisi dan berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan.
Berbicara tentang kota yang kita inginkan adalah berbicara tentang cara yang kita inginkan untuk hidup. Kita ingin menciptakan sebuah kota untuk kaum miskin, ana-anak, dan lanjut usia dan oleh karena itu untuk setiap manisua lainnya atau sebuah kota untuk mobil. Hal tersebut bukanlah tentang rekayasa, melainya cara hidup. Dasar pikiran dari kota baru adalah bahwa kita ingin masyarakat dapat bersikap sedemokratis mungkin. Untuk itu, distribusi penghasilan. Persamaan hak yang benar-benar menjadi masalah adalah yang berhubungan dengan seorang anak yaitu untuk memperoleh akses ke gizi, rekreasi, pendidikan, fasilitas olahraga, jalur hijau, dan lingkungan hidup yang sebebas mungkin dari kendaraan bermotor. Kota tersebut harus memiliki budaya yang bersahabat; tempat publik dengan warga; tingkat kebisingan dan polusi udara yang rendah; dan waktu perjalanan yang singkat.
Untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di kota metropolitan ada dua solusi untuk menjadikan kota metropolitan tersebut nyaman untuk masyarakat yang menempati tempat tersebut, yaitu


 

Vertical City


Kota-kota metropolitan dimasa depan sering disebut dengan Vertical City. Mengapa? Karena semua bangunan yang ada di kota-kota metropolitan di masa depan akan berupa bangunan tinggi pencakar langit. Vertical city dimaksudkan untuk mengubah wajah di kota metropolitan yang sudah semakin sempit dengan keberadaan manusia yang tinggal di dalamnya. Apartemen ,Mix Used Building hadir sebagai solusi jawaban bagi kita di masa depan yang rindu akan keberadaan ruang terbuka hijau. Jika semua fungsi rumah tinggal, hotel, kantor, ritel, mall bisa dijadikan di satu bangunan maka polusi udara akan berkurang, taman-taman kota semakin banyak, ruang terbuka hijau juga semakin banyak serta ruang publik sebagai area bersosialisasi juga akan semakin banyak.
Keberadaan vertical city ini juga memberikan keuntungan untuk tiga aspek kehidupan. Yaitu :
1.        Lingkungan
Menekan pemanasan global, melestarikan keberadaan tanah, membuat banyak ruang terbuka hijau, menghadirkan makanan dari lahan pertanian yang sehat.
2.        Umum
Memaksimalkan kepadatan penduduk dan efisiensi di setiap bangunan tinggi. Memaksimalkan jarak antar bangunan untuk bisa ditempuh dengan berjalan kaki ± 15 menit.
3.        Sosial Ekonomi-Politik
Keberadaan Mix Used Building diharapkan mampu mengurangi kemacetan di jalan raya serta meminimaliskan polusi udara di perkotaan. Karena dengan adanya Mix Used Building kebutuhan masyarakat akan hunian, pekerjaan, pendidikan, hiburan, pelayanan kesehatan serta pelayanan jasa lainnya bisa didapatkan di dalam satu gedung bangunan, tanpa harus menggunakan kendaraan pribadi atau umum untuk menjangkaunya.

Memprioritaskan Kendaraan Umum

Solusi yang berkelanjutan ini adalah dengan meminta masyarakat menggunakan angkutan umum daripada menggunakan mobil pribadi. Sebagian mengusulkan biaya penggunaan yang tinggi dalam rangka membataso penggunaan yang tinggi dalam rangka membatasi penggunaan mobil pribadi: biaya registrasi kendaraan, pajak kendaraan, pembatasan BBM(Bahan Bakar Minyak) atau berbagai bea jalan sesuai dengan jenis jalan dan waktu penggunaannya. Namun demikian penyelesaian seperti ini memiliki kelemahan antara lain biaya dibebankan tersebut tidak pernah menutupi secara memadai biaya kebisingan dan polusi udara, kontruksi dan pemeliharaan jalan.
Kebijaksanaan tentang transportasi perkotaan cenderung mengarah ke aspek politik daripada aspek teknis, karena aspek teknis dinilai tetap sederhana. Kebijaksanaan tersebut dapat terkait dengan penciptaan model transportasi yang sama dengan kota-kota negara lain, penciptaan sistem angkutan yang berbiaya rendah dan berfrekuensi tinggi, dan penciptaan ruang umum untuk pejalan kaki. Daya beli masyarakat terhadap kendaraan semakin tinggi menimbulkan kemacetan lalu lintas yang akan berakibat pada tekanan yang luar biasa untuk melakukan investasi dalam infrastruktur jalan yang lebih banyak dan lebih besar, dimana pada gilirannya akan merangsang pembangunan ke pinggiran kota.
Paris adalah contoh terbaik tumbuhnya penggunaan mobil dan beberapa jenis transportasi lain seperti kereta, didukun dengan pusan kota yang indah dan angkutan umum yang bermutu tinggi.
Perlu dipahami pula bahwa keistimewaan-keistimewaan apa saja yang menarik orang kepinggiran kota dibuat supaya keistimewaan-keistimewaan tersebut juga dapat disediakan di pusat-pusat kawasan.
Model kota baru yang ditetapkan sekarang ini memberikan banyakk jalan khusus pejalan kaki dan jalur hijau yang memberikan kekuatan yang menggerakkan sub-urbanisasi ini. Sifat dasar transportasi berbasis mobil yang tidak berkelanjutan diilustrasikan melalui fakta bahwa masalah makin memburuk ketika masyarakat tumbuh semakin kaya. Kecuali kalau penggunaan mobil dibatasi dengan sangat ketat, seperti di Hongkong yang menyediakan ruang parkir di Pusar Kawasan Bisnis dengan jumlah yang sedikit, masyarakat akan lebih dirugikan seiring dengan kemajuan ekonomi.




Membangun Taman Kota

Kota Taman dapat berupa hutan kota (arboretum), taman kota, lapangan olahraga, jalur hijau, plaza disepanjang jalan raya, bantaran rel kereta api, bantaran sungai, pantai saling menyatu dengan didominasi pohon-pohon besar berusia puluhan hingga ratusan tahun berdiameter lebih dari 50 sentimeter dan bukit rumput merupakan pengisi suatu taman kota. Seperti di Kota Singapura yang mempunyai ciri khas kota tamah bergaya Inggris (English landscape garde). Kesegaran udara begitu terasa di badan meski berbagai jenis kendaraan transportasi lalu lalang membelah lalu lintas. Pepohonan rimbun dan rindang, yang terus-menerus menyerap dan mengelolah gas-gas buangan kendaraan bermotor, yang merupakan 80 persen pencemar udara kota, menjadi oksigen segar yang siap dihirup warga setiap saat. Sehingga warga kota pun terhindar dari resiko infeksi saluran pernapasan, stres, mual, muntah, pusing, kematian janin, keterbelakangan mental anak-anak, dan kanker kulit akibat sinar ultraviolet. Begitu pula dengan Kota Metropolitan, kios-kios yang menempati tepi jalan digusur untuk membuat taman-taman kota, demi terciptanya kota yang sehat yang berkonsep eco-teknologi, sedangkan kondisi kota metropollitan yang ada di Indonesia seperti Kota Bogor sebagian besar masih segar, dengan banyaknya vegetasi penunjang kota. Pembuatan kota taman tidak bisa dilakukan secara sekejap. Kota Taman di Singapura dibangun sejak tahun 1965 untuk dapat dinikmati seperti sekarang. Komitmen dan konsistensi pelaksanaan pembangunan fisik kota terus di imbangi dengan konservasi RTH(Ruang Terbuka Hijau) secara ketat dan disiplin dalam menata ruang kota metropolitan. Tidak semua lahan harus dipenuhi oleh bangunan gedung perkantoran, ruko, hotel, apartemen. Oleh karena itu, peraturang tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB), di setiap distrik harus diberlakukan dengan ketat, untuk menjamin terciptanya keselarasan bangunan dengan alam.

PENUTUP

Kesimpulan

Kota Metropolitan merupakan suatu wilayah yang di tempati oleh manusia yang lebih dari satu juta jiwa. Tempat permukiman penduduk yang merupakan satu kesatuan dengan luas, jumlah bangunan, kepadatan bangunan yang relatif lebih tinggi. Proporsi bangunan permanen besar;  Mempunyai banyak bangunan fasilitas sosial ekonomi (sekolah, poliklinik, pasar, toko, kantor pemerintah dan lain-lain). Dengan demikian, masa depan kota metropolitan menjadi sangat penting untuk menghindari masalah-masalah yang ada pada kota metropolitan yang berdampak besar terhadap kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat yang menempatinya.

Saran

Mengurangi dampak terjadinya kemacetan yang terjadi di kota metropolitan dengan menggunakan kendaraan umum saat berpergian, akan lebih efisien menghemat biaya, mengurangi kemacetan yang ada, Sebagai calon penerus Planner kita seharusnya lebih mengerti dalam membangun gedung yang lebih dalam suatu wilayah agar mengurangi dampak buruk yang ada pada suatu wilayah tersebut. Agar masa depan wilayah yang dibangun nyaman ditempati.

DAFTAR PUSTAKA


MulyandariHestin.2011.Pengantar Arsitektur Kota:Yogyakarta.C.V. ANDI OFFSET
https://florafocus.wordpress.com/

Agus Jailani. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts